Kiprah Heri Purnomo Penerima Penghargaan PWI Jombang Award 2026 untuk Kemajuan Peternak Lele

Heri Purnomo peternak lele, penerima Penghargaan PWI Jombang Award 2026

JOMBANGKU.com – Banyak cara agar bisa terus bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Itulah yang dilakukan Heri Purnomo. Tak harus jadi pejabat, agar ia bisa bermanfaat bagi masyarakat tempat ia tinggal.

Di sudut Desa Temuwulan, Kecamatan Perak, Heri Purnomo tumbuh dari kolam-kolam kecil yang dulu nyaris tenggelam oleh kerugian.

Bagi sebagian orang, kehilangan hingga Rp1 miliar mungkin menjadi titik akhir. Namun bagi Heri, itu justru awal dari perubahan cara pandang, bahwa usaha tidak cukup berdiri sendiri, melainkan perlu ditopang kebersamaan.

Langkahnya dimulai pada 2016. Tanpa latar belakang khusus di bidang perikanan, ia belajar secara otodidak, membangun enam kolam lele sederhana. Prosesnya tidak mudah.

Kegagalan demi kegagalan datang, hingga akhirnya kerugian besar tak terhindarkan.

“Kalau gagal, pasti pernah dan itu pasti. Tapi karena saya punya keyakinan bahwa hal ini bisa bermanfaat bagi orang lain, saya terus mencoba,” ucapnya pada Rabu (8/4/2026).

Dari titik terendah itu, Heri menemukan persoalan mendasar yang selama ini luput, yakni peternak kecil bukan hanya menghadapi kendala teknis, tetapi juga terjebak dalam keterbatasan akses pasar.

“Saya melihat peternak kecil itu punya kendala dalam keterbatasan akses pasar. Sehingga cakupannya sangat kecil,” ujarnya melanjutkan.

Kesadaran itu mengubah arah perjuangannya. Heri tak lagi hanya fokus membesarkan lele, tetapi juga membangun jaringan.

Tiga tahun lalu, ia mulai merintis wadah bersama, bernama Kelompok Petani Ikan Air Tawar Nusantara (Pelantara). Tujuannya sederhana, menghubungkan para pembudidaya agar tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Tujuan saya itu hanya satu. Kita semua berkumpul, membentuk kelompok, agar bisa berkembang bersama, biar para peternak ini tidak berjalan sendiri-sendiri,” ungkapnya.

Heri menceritakan, mulanya, kelompok yang ia bentuk bersama warga sekitar itu hanya segelintir orang.

Dari sekitar 20 anggota awal, kelompok ini kini berkembang menjadi 100 peternak yang tersebar di berbagai wilayah Jombang.

Pertumbuhan itu bukan sekadar angka. Produksi yang semula kecil kini meningkat drastis, mencapai sekitar 4 ton lele per hari.

“Lebih dari itu, ada perubahan pola pikir, dari kompetisi menjadi kolaborasi,” bebernya.

Di dalam kelompok, Heri aktif mendampingi para anggota. Ia berbagi pengalaman tentang teknik budidaya yang lebih efisien, sekaligus mendorong penggunaan pakan alternatif untuk menekan biaya produksi.

“Bagi saya, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari hasil panen, tetapi juga dari seberapa kuat para peternak bisa bertahan bersama menghadapi dinamika pasar,” jelasnya.

Upaya tersebut akhirnya mendapat pengakuan. Dalam ajang PWI Jombang Award 2026, Heri dianugerahi penghargaan sebagai “Inisiator Sinergi Ekonomi Akuakultur Kabupaten Jombang”.

Penghargaan itu menjadi simbol atas kerja panjang yang tidak instan dari usaha individu yang jatuh bangun, hingga menjadi gerakan kolektif yang memberi dampak nyata.

PWI menilai, yang dilakukan Heri bukan sekadar membangun usaha, tetapi menciptakan ekosistem.

“Beliau berhasil mendorong kemandirian ekonomi berbasis akuakultur, sekaligus memperkuat posisi peternak kecil di tengah tantangan pasar,” kata Ketua PWI Jombang, Muhammad Mufid saat dikonfirmasi.

Kini, kolam-kolam lele di Temuwulan bukan lagi sekadar tempat budidaya. Ia telah menjadi ruang belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama.

Heri Purnomo mungkin memulai semuanya seorang diri, tetapi hari ini, langkahnya telah diikuti puluhan peternak lain yang bergerak dalam satu arah.

Ke depan, harapan pun mengalir seiring derasnya air kolam. Model kolaborasi yang ia bangun, diharapkan terus berkembang, menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lain bahwa kekuatan terbesar bukan terletak pada individu, melainkan pada kebersamaan yang terorganisir. (Red)