Temuan ini harus diwaspadai karena paparan mikroplastik yang berlebihan memiliki dampak serius bagi kesehatan manusia, terutama pada sistem metabolisme tubuh.
JOMBANGKU.com – Lembaga kajian lingkungan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) merilis temuan mengkhawatirkan terkait adanya polusi mikroplastik yang terpapar di udara sejumlah wilayah Kabupaten Jombang, Jawa Timur.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada Senin, 19 Januari 2026, polusi ini ditemukan tersebar di beberapa titik strategis, terutama di kawasan perkotaan yang padat aktivitas.
Tim peneliti melakukan pengambilan sampel di lima lokasi berbeda, yakni Simpang Empat Desa Sengon, Jalan Raya Desa Sengon, wilayah Desa Jatirejo di Kecamatan Diwek, area depan Lapas Jombang, serta kawasan di depan Polres Jombang.
Hasil penelitian laboratorium menunjukkan sebaran partikel plastik yang bervariasi di setiap lokasi. Temuan paling signifikan tercatat di Simpang Empat Desa Sengon dengan total 58 partikel yang terdiri atas fiber, film, dan fragmen.
Sementara itu, di wilayah Jatirejo ditemukan 16 partikel, disusul area depan Lapas Jombang dengan 14 partikel, dan depan Polres Jombang sebanyak 13 partikel. Di kawasan Jalan Raya Desa Sengon, peneliti menemukan 4 partikel mikroplastik dalam bentuk film.
Secara keseluruhan, partikel berjenis fiber atau serat tekstil sintetis menjadi temuan yang paling mendominasi di hampir seluruh lokasi penelitian.
Kepala Laboratorium Ecoton, Rafika Aprilianti, menjelaskan bahwa tingginya temuan jenis fiber berkaitan erat dengan pola hidup dan aktivitas domestik masyarakat.
Mikroplastik jenis ini umumnya bersumber dari limbah cucian rumah tangga serta berbagai kegiatan harian yang sering kali dianggap sepele namun berdampak besar terhadap akumulasi plastik di alam.
“Berdasarkan hasil penelitian terbaru, jenis mikroplastik yang paling mendominasi adalah fiber atau serat tekstil sintetis,” kata Rafika, Senin (19/1/2026).
Menurut Rafika, temuan ini harus diwaspadai karena paparan mikroplastik yang berlebihan memiliki dampak serius bagi kesehatan manusia, terutama pada sistem metabolisme tubuh.
Lebih lanjut, Rafika mengungkapkan bahwa plastik mengandung sekitar 16.000 bahan kimia, di mana 4.000 diantaranya merupakan zat berbahaya bagi tubuh.
Paparan ini dikhawatirkan dapat mengganggu fungsi hormon esensial seperti insulin dan hormon reproduksi. Gangguan pada sistem hormon ini pada akhirnya akan merusak metabolisme tubuh secara keseluruhan.
Hal inilah yang mendasari urgensi bagi warga dan pemerintah untuk mulai memperhatikan kualitas udara dari sudut pandang polusi mikroplastik.
“Sangat mempengaruhi hormon. Tubuh kita ini kan diatur oleh berbagai hormon seperti insulin dan hormon reproduksi. Jika hormon terganggu, maka metabolisme juga akan terganggu,” ujar Rafika.
Senada dengan hal tersebut, Peneliti Senior Ecoton, Amiruddin Muttaqin, menekankan bahwa faktor utama tingginya pencemaran di Jombang adalah lemahnya manajemen pengelolaan limbah domestik.
Ia menilai bahwa selama sistem pengolahan air limbah rumah tangga belum dibenahi secara serius, mikroplastik akan terus mengalir bebas dan merusak ekosistem secara berkelanjutan.
Amiruddin mendesak Pemerintah Kabupaten Jombang untuk segera memperketat tata kelola limbah serta mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengurangi penggunaan plastik sekali pakai demi menjaga kelestarian lingkungan dan kesehatan publik di masa depan. (Ms/Red)






