Agak Laen

Oleh: Binti Rohmatin, Wakil Ketua PWI Kabupaten Jombang

Binti Rohmatin, Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Jombang periode 2021 - 2024
Binti Rohmatin, Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Jombang periode 2021 - 2024

FILM Indonesia terlaris sepanjang masa Agak Laen: Menyala Pantiku! memang cukup menarik dan unik. Tayangan film komedi yang dibintangi kuartet Bene Dion, Boris Bokir, Indra Jegel, dan Oki Rengga ini berhasil mengambil alih film animasi Jumbo, dengan lebih dari 10 juta penonton. Ada ekspresi tangis, tawa lepas, geli dan suasana campur aduk di setiap adegan.

Saya sendiri menonton film ini di lantai 5 Depok Town Square (Detos) beberapa waktu lalu. Ada pesan moral yang tersirat dalam film yang disutradarai dan ditulis oleh Muhadkly Acho ini, terutama terhadap institusi kepolisian.

Pesan moral tersebut tampak jelas pada adegan salah tangkap sesama anggota, hingga penyamaran di panti lansia yang diwarnai gertakan serta sikap kasar salah satu anggota agar lansia yang terindikasi pelaku pembunuhan mau mengakui perbuatannya. Pesan moral ini berlanjut sampai sindiran terhadap penceramah yang ternyata juga hasil penyamaran anggota. Agak Laen memang menjadi film yang lain dari yang lain.

Sejauh ini, sindiran sosial lebih banyak termaktub dalam karya sastra, entah itu novel, film komedi, cerpen, maupun narasi sastra lainnya. Faktanya, institusi yang memiliki salam khas “Presisi” ini memang acapkali menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat.

Di penghujung tahun, banyak penghargaan (reward) yang diberikan kepada anggota, baik di jajaran Polres maupun Polda. Langkah ini sangat baik untuk meningkatkan kinerja pelayanan dan perlindungan masyarakat, sekaligus memotivasi anggota lainnya. Terlebih lagi, reward ini selalu disertai kenaikan pangkat dan berbagai promosi, sehingga sangat dinantikan oleh setiap anggota.

Namun sejauh ini, baik di media arus utama maupun media daring, pemberian reward kepada anggota sangat jarang dibarengi dengan penyampaian informasi mengenai kedisiplinan. Sebaliknya, anggota yang bermasalah atau indisipliner—termasuk yang jelas-jelas melakukan tindak pidana—justru jarang disampaikan kepada publik. Jangankan hasil akhir keputusan atas pelanggaran yang dilakukan, untuk sekadar mengetahui perkembangan kasusnya saja sering kali tidak tersampaikan.

Tidak ada pembaruan informasi (update). Hal yang membuat masyarakat mengelus dada adalah adanya oknum anggota yang “turun gunung”. Berdalih pengamanan ini dan itu, selalu saja ada “persembahan” akhir tahun. Sebagai objek, masyarakat hanya bisa mengiyakan meski disisipi doa-doa lain di dalam hati. Tradisi semacam ini pun pernah tertuang dalam berbagai karya sastra.

Oleh karena itu, alangkah bijaksananya bila semua pihak menahan diri. Jangan menunggu munculnya Agak Laen dalam versi yang berbeda. Kebiasaan “turun gunung” jangan dijadikan tradisi untuk menakut-nakuti masyarakat. Masih ada cara lain yang lebih santun dan profesional. Makna Prediktif, Responsibilitas, dan Transparansi Berkeadilan dalam tagline “Presisi” harus benar-benar diwujudkan dalam program transformasi yang nyata. (*)