Antisipasi Banjir di Jombang, Dinas PUPR Fokus Normalisasi 5 Saluran

Ahmad Bustomi, PUPR Jombang
Imam Bustomi, Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Jombang.

JOMBANGKU.com – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Jombang terus mengoptimalkan kegiatan normalisasi saluran, seiring dengan tingginya curah hujan yang mengguyur kota santri.

Sekretaris Dinas PUPR Kabupaten Jombang, Imam Bustomi mengatakan, langkah itu dilakukan sebagai upaya pengendalian banjir. Hingga saat ini, ada 5 titik kegiatan normalisasi saluran yang masih berjalan.

“Salah satu kegiatan yang sejak jauh hari kami lakukan yakni normalisasi sungai. Upaya ini kami lakukan, untuk mengantisipasi terjadinya banjir,” ujar dia, Rabu (7/12/2022).

Dia mengungkapkan, normalisasi saluran yang terus berjalan hingga saat ini berada di 5 titik. Kelima titik tersebut adalah Kali Bancang di Desa Kebonagung, Kecamatan Ploso, serta Afvour (saluran pembuang) Plosorejo.

Kemudian, Afvour Sapon di Kecamatan Kesamben, Afvour Plumpung di Kecamatan Perak, serta Saluran Sekunder Tejowetan di Kecamatan Sumobito.

”Selain lima titik ini, sebelumnya juga ada kegiatan yang sudah selesai lalu kini sudah pindah. Seperti di Sekunder Karobelah, Kecamatan Mojoagung, serta penanganan sumbatan di jembatan Betek,” ujar Bustomi.

Direncanakan, normalisasi lima titik itu bakal dilakukan hingga pertengahan Desember nanti. Hal itu dilakukan, untuk menyesuaikan tahun anggaran yang masih berjalan.

”Karena berkaitan SPj untuk bahan bakar, sehingga menyesuaikan. Baru berhenti dan akan lanjut lagi di awal tahun,” ungkapnya.

Ditanya perihal prosentase, Bustomi menyebut dalam kegiatan normalisasi tidak ada hal itu. Ukuran yang dipakai, yakni capaian panjang atau kilometer hasil pengerukan.

“Untuk pekerjaan fisik memang menggunakan prosentase. Namun untuk normalisasi menggunakan hitungan jarak atau kilometer, sepanjang yang telah menjalani pengerukan,” jelas dia.

Ditanya perihal kendala yang dihadapi sampai saat ini, Bustomi memberikan contoh saluran Afvour Sapon. Normalisasi di saluran sepanjang 4 kilometer itu menemui sedikit terkendala, akibat rimbunnya rumpun bambu.

Kondisi serupa, juga terjadi di Kali Bancang. Rimbunnya rumpun bambu membuat upaya normalisasi agak terkendala.

“Untuk itu alat berat masih bersiaga di lokasi, karena pekerjaan sedikit terkendala. Untuk Kali Bancang sendiri, merupakan anak Kali Marmoyo,” kata Bustomi.

Dijelaskan, ada banyak pertimbangan normalisasi dilaksanakan. Di antaranya sebagai upaya pengendalian banjir.

”Untuk Afvour atau pembuang ini kita upayakan untuk pengendalian banjir. Bagian dari proses peningkatan kapasitas sungai, sementara sekunder untuk irigasi pertanian bisa terpenuhi,” tutur dia.

Menurut Bustomi, banyak fungsi dilaksanakan normalisasi. Selain pengendalian banjir, juga memperlancar aliran air baik untuk pertanian maupun mengurangi genangan.

”Jadi baik afvour dan sungai kegiatannya pengendalian banjir walaupun ada juga fungsi irigasi. Tapi lebih dominan ke fungsi pengendalian, supaya aliran air lancar dan tidak menggenang kanan dan kiri,” pungkas dia. (HER/Ant./Red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *