Di momen Hari Ibu ini, kita bisa menerapkan nilai-nilai Aisyah. Seandainya tidak bisa mencontoh semua kelebihannya, paling tidak kita berupaya dari salah satu kelebihan yang dimiliki.
MENGACA pada tema nasional yang diusung dalam HUT Ke-26 Dharma Wanita Persatuan (DWP) baru-baru ini, mengingatkan saya pada sosok Aisyah. Putri dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, sahabat terdekat Nabi, yang kemudian menjadi istri Nabi Muhammad SAW. Tidak hanya cantik luar dalam, Aisyah dikenal cerdas, berilmu tinggi, hingga memiliki peran penting dalam mendidik umat, terutama kaum perempuan.
Sebagai organisasi istri aparatur sipil negara (ASN), tidak terlalu berlebihan bila strategi perempuan dalam mendidik menjadi tagline penting. Apalagi, 22 Desember ada peringatan Hari Ibu yang bertujuan satu, yaitu anak-anak tumbuh sehat, cerdas, dan memiliki sifat santun.
Kita bisa melihat pendidikan yang ditanamkan Abu Bakar Ash-Shiddiq dengan mencontoh Nabi Muhammad SAW. Menanamkan nilai iman, takwa, dan akhlak mulia. Hal ini menjadikan putrinya, Aisyah, tumbuh sebagai anak yang cerdas dan memiliki sifat dermawan.
Bahkan dalam perkembangannya, Aisyah mendapat gelar sebagai ibu orang-orang mukmin (Ummul Mukminin). Gelar ini disematkan karena Aisyah sangat cerdas, memiliki hafalan kuat, dan berwawasan luas. Ia menjadi teladan dan contoh bagi perempuan dalam hal kecerdasan, ibadah, kedermawanan, dan kepemimpinan. Peran Aisyah juga sangat penting dalam sejarah Islam, sebagai periwayat hadits dan ahli fikih.
Di momen Hari Ibu ini, kita bisa menerapkan nilai-nilai Aisyah. Seandainya tidak bisa mencontoh semua kelebihannya, paling tidak kita berupaya dari salah satu kelebihan yang dimiliki. Jadi, dalam keluarga, peran ibu cukup penting untuk memastikan perkembangan setiap anak, tumbuh kembang dengan potensinya.
Indonesia emas 2045 tidak bisa lahir dengan instan. Sebaliknya, harus dengan kerja keras, sabar, dan keteladanan. Menerapkan asah (stimulasi pendidikan memadai), asih (kasih sayang), dan asuh (nutrisi cukup seimbang dan halal). Buat ibu-ibu yang luar biasa, mari dimulai dari keluarga kita masing-masing. Bismillah.
* Ditulis Oleh Binti Rohmatin (Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Jombang Periode 2024 – 2027)




