JOMBANGKU.com – Pasar Barongan Kali Gunting di Desa Mojotrisno, Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menghadirkan suasana unik.
Keunikannya tak sekedar barang ataupun produk yang dijual. Suasana lingkungan, sistem jual beli, serta aturan bagi pedagang menjadi pembeda dengan tempat-tempat lainnya.
Pasar Barongan berada di tepi sungai gunting yang melintasi Desa Mojotrisno. Rindangnya kebun atau rumpun bambu menghadirkan kesejukan alami bagi setiap pengunjung.
Penyebutan nama Pasar Barongan Kali Gunting merujuk pada lokasi. Barongan merupakan istilah jawa yang berarti kebun bambu atau rumpun bambu.
Kepala Pengelola Pasar Barongan, Nusa Amin menjelaskan, Pasar Barongan Kali Gunting didesain sebagai pasar tradisional, namun tidak seperti kebanyakan pasar tradisional.
Pasar tersebut bukan sekedar pasar. Selain untuk memfasilitasi promosi dan jual beli produk lokal, serta makanan menyehatkan, juga didesain sebagai destinasi wisata.
Dia menjelaskan, ada persyaratan khusus bagi pedagang agar bisa ikut berjualan di Pasar Barongan. Persyaratan tersebut meliputi produk yang dijual maupun pedagang.
Barang yang dijual harus berasal dari karya lokal. Kemudian, makanan yang dijual tidak boleh menggunakan bumbu yang mengandung MSG, memakai pengawet makanan buatan serta pewarna makanan buatan.
Berikutnya, kata Amin, setiap pedagang harus mematuhi peraturan untuk tidak menggunakan plastik sebagai tempat dagangan maupun kemasan saat berjualan di Pasar Barongan.
“Tujuan kita back to nature, kembali ke alam. Jadi, syaratnya tidak boleh pakai plastik, tidak boleh memakai MSG, dan makanan tanpa pengawet buatan, tanpa pewarna buatan,” ujar dia, Sabtu (6/8/2022).
Kepala Pusat Pengabdian pada Masyarakat (PPM) UK Petra, Lintu Tulistyantoro mengatakan, selain sebagai destinasi wisata, Pasar Barongan Kali Gunting didesain untuk memfasilitasi pengembangan produk lokal.
Pasar tersebut, ungkap dia, berhasil dibuka berkat kolaborasi antara masyarakat, pegiat lingkungan, pelaku usaha lokal, UK Petra, serta Pemerintah Desa Mojotrisno.
“Pasar ini merupakan pasar yang didesain untuk memfasilitasi produk-produk binaan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UK Petra. Yang dihadirkan meliputi produk utama Desa Mojotrisno seperti Cor Logam, Batik warna alam, batik panji, Tenun, Ecoprint hingga kuliner lokal,” jelas Lintu.
Pasar Barongan Kali Gunting hanya dibuka pada hari Minggu setiap bulan pada pekan pertama. Pasar beroperasi dari pukul 06.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB.
Kemudian, sistem pembayarannya tidak menggunakan uang tunai tetapi menggunakan bilah bambu. “Jadi tidak bisa menerima pembayaran menggunakan rupiah,” kata Lintu.
Agar bisa membeli di pasar, setiap pengunjung harus menukarkan uang tunai dengan kepingan atau bilah bambu. Setiap keping bambu, bernilai Rp. 2.000.
Adapun kepingan bambu yang bisa dijadikan alat tukar pembelian, disediakan pengelola pasar di pintu masuk pasar, serta bagian belakang pasar.
Lintu mengungkapkan, sebelum peresmian Pasar Barongan Kali Gunting, pihaknya melaksanakan program pendampingan masyarakat di Desa Mojotrisno, terbagi dalam 4 komponen program, yakni Interior Design, Visual Communication Design, arsitektur, serta Creative Tourism.
“Proses yang cukup panjang kami siapkan hal ini. Kolaborasi terjadi dari berbagai program yang ada di UK Petra agar Desa Mojotrisno bisa menjadi destinasi wisata di Indonesia,” kata Lintu.
Dia menambahkan, keberadaan Pasar Barongan Kali Gunting diharapkan bisa menjadi alternatif destinasi wisata, serta menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.
Sementara itu, suasana Pasar Barongan Kali Gunting tampak berbeda dengan keberadaan tradisional lainnya.
pedagang di Pasar Barongan menjual aneka jajanan tradisional khas nusantara. Produk jajanan yang tersedia, antara lain gethuk lindri, cenil, thewul hingga aneka jajanan polo pendem.
Untuk makanan berat, para pedagang menjual nasi ampok atau nasi jagung, nasi kuning, nasi pecel, hingga bobor yuyu, serta ketan.
Semua makanan dan jajanan yang dijual, menggunakan wadah atau dikemas dengan daun pisang. Tak terlihat adanya kemasan atau wadah makanan berbahan plastik.
Untuk produk kerajinan, produk yang dijual antara lain anyaman bambu, ukiran dari bambu, kain batik, produk anyaman pandan, hingga manik-manik.
Sedangkan untuk transaksi jual beli, dilakukan dengan menukar satu hingga beberapa keping bilah bambu untuk setiap pembelian produk barang ataupun makanan.
Agar bisa membeli di pasar, setiap pengunjung harus menukarkan uang tunai dengan kepingan atau bilah bambu. Setiap keping bambu, bernilai Rp. 2.000 yang disediakan di pintu masuk pasar.(MHS/Red)