Warung Keikhlasan

Binti Rohmatin, Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Jombang periode 2021 - 2024
Binti Rohmatin, Wakil Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Jombang periode 2021 - 2024

Sesuai namanya, maka tidak ada yang menjaga warung ini. Semua disiapkan dan dibuat sendiri. Begitu juga uangnya, langsung dimasukkan di tempat yang sudah tersedia.

WARUNG Keikhlasan yang disediakan untuk pengguna jalan di Masjid Nurul Huda Ulukan, Jembrana, Bali, cukup memantik perhatian siapa saja yang melintas. Tak hanya lokasinya yang berada di pinggir jalan raya, pada jalur utama Jawa-Bali.

Warung yang didesain seperti kontainer mini ukuran 1×2 meter itu lengkap dengan termos pemanas air serta aneka minuman sachet berbagai seduhan. Ada pula mie instan berbagai rasa dan kemasan.

Saat beristirahat setelah menempuh perjalanan dari Gilimanuk ke Denpasar atau sebaliknya. Jika menunaikan kewajiban shalat lima waktu, bisa memanfaatkan warung keikhlasan ini. Sambil shalat, sambil rehat, rebahan sebentar, menikmati sajian minuman hangat.

Sesuai namanya, maka tidak ada yang menjaga warung ini. Semua disiapkan dan dibuat sendiri. Begitu juga uangnya, langsung dimasukkan di tempat yang sudah tersedia.

Tak beda jauh dengan kantin kejujuran yang pernah digaungkan tahun 2008 lalu di sekolah-sekolah. Namun kini, bentuk pembiasaan perilaku jujur kepada siswa, seperti hilang ditelan waktu.

Keberadaan kantin memang masih bertahan sampai sekarang. Barang yang disediakan juga habis terjual. Namun, tak ada pemasukan. Bahkan, modal awal tidak balik karena banyak pembeli yang akhirnya tidak membayar meski sudah menikmati makanan.

Adapun yang perlu dicermati adalah kehadiran pengunjung anak-anak. Berboncengan sepeda motor, tiga anak usia SMP, langsung masuk masjid dan parkir di depan warung. Satu anak membuat mie instan gelas, satu anak lain membuat teh hangat. Sedangkan anak satunya membuat seduhan kopi panas.

Tanpa menoleh kesana-sini, mereka langsung memasukkan beberapa lembar uang kertas di kotak tersedia. Setelah itu, mereka berjalan ke sebelah utara masjid untuk menikmati makanan yang dibuatnya sendiri hingga asupan terakhir.

Tiga anak dari kampung sebelah, sebagaimana penuturan sang marbot masjid, menunjukkan bahwa pendidikan kejujuran telah masuk ke dalam jiwanya. Mungkin karena pernah ada pengalaman tidak mengenakkan, yakni konsumen anak-anak yang membayar tidak sesuai dengan makanan yang dinikmati.

Sehingga ada rasa khawatir, bila hal itu terulang dan diketahui. Hal ini membuat mereka sadar diri dan langsung melaksanakan kewajibannya.

Pendidikan karakter bisa didapatkan dimana saja. Termasuk kejujuran. Tak hanya di sekolah yang memang sistem pendidikan harus berimbang dalam menanamkan nilai-nilai karakter.

Di lingkungan sekitar rumah pun, pendidikan karakter harus dilakukan. Termasuk dalam kehidupan sosial bersama warga sekitar. Keberadaan warung keikhlasan itu secara tidak langsung memberikan pendidikan karakter dan kejujuran kepada semua pengguna jalan yang melintas.

Untuk itu tidak berlebihan jika di momen Hari Anak Nasional (HAN) yang baru diperingati beberapa hari kemarin, sekaligus menggelorakan perimbangan sistem pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai karakter.

Keluarga tetap menjadi garda terdepan dalam pendidikan karakter ini. Mulai dari orang tua , saudara dan lingkungan sekitar rumah. Semua bahu membahu menanamkan nilai-nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari.

Jika anak-anak dibina dengan baik dan benar sejak di lingkungan terkecil keluarga, termasuk bimbingan karakter. Maka mereka akan tumbuh menjadi generasi emas seperti yang diharapkan.

Pendekatan berbeda yang dicetuskan Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dengan memberikan usulan insentif menarik untuk anak-anak, rasanya tidak berguna jika pendalaman nilai karakter, tak tersentuh. Percuma kalau anak-anak diberi tiket gratis masuk tempat wisata, namun mereka tetap mencuri makanan di warung. (*)

 

Penulis: Binti Rohmatin, Sekretaris Majlis Taklim Perempuan IPHI Jombang