Cak Ukil, dari Jalanan Jombang ke Layar Kaca, Menyalakan Literasi di Tengah Bising Dunia Digital

Cak Ukil (kanan) saat terima penghargaan PWI Jombang Award 2026.

JOMBANGKU.com– Di tengah derasnya arus konten instan yang kerap dangkal dan serba cepat, nama Mohamad Sulukhil Amin atau yang akrab disapa Cak Ukil justru hadir sebagai penyejuk.

Ia bukan sekadar kreator, melainkan penutur gagasan yang menempatkan literasi sebagai napas utama dalam setiap karyanya.

Perjalanan Cak Ukil menuju dunia kreatif tidaklah instan. Sebelum dikenal luas di jagat digital, ia lebih dulu ditempa oleh kerasnya kehidupan sebagai kolektor leasing selama lima tahun.

Jalanan, tekanan pekerjaan, hingga dinamika menghadapi berbagai karakter orang menjadi “sekolah” yang membentuk ketahanan mentalnya.

“Pengalaman itu jadi bekal penting bagi saya supaya terus bertahan dan tetap rendah hati. Apalagi arus perubahan hidup ini begitu cepat,” ucap Cak Ukil, Rabu (8/4/2026).

Langkahnya di industri kreatif semakin mendapat sorotan ketika ia berhasil menembus layar lebar melalui film Sekawan Limo, film layar lebar karya Bayu Skak.

Keterlibatannya dalam film tersebut menunjukkan bahwa konsistensi dalam berkarya di ruang digital dapat membuka peluang lebih luas di industri hiburan.

“Kuncinya hanya konsisten saja berkarya. Geluti apa yang kita suka dan kalau bisa yah bermanfaat bagi orang lain,” katanya.

Namun, di balik sorotan itu, Cak Ukil tak pernah melepaskan akar pengabdiannya. Sejak 2016, ia tetap setia menjalani peran sebagai guru madrasah.

Ia menuturkan bahwa menjadi pendidik adalah bagian penting dari hidupnya yang tidak bisa ditinggalkan, karena di sanalah ia merasa memiliki tanggung jawab untuk membentuk karakter generasi muda.

“Itu bagian dari hidup saya yang tidak bisa saya tinggalkan. Karena disana saya merasa punya tanggung jawab untuk membangun dan membentuk karakter anak muda kita,” ungkapnya.

Dalam setiap kontennya, Cak Ukil tidak sekadar mengejar viralitas. Ia menekankan pentingnya riset dan literasi sebagai fondasi utama dalam berkarya.

“Konten digital seharusnya tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga mampu memberikan nilai tambah dan memperluas wawasan audiens,” bebernya.

Konsistensi itulah yang kemudian mengantarkannya meraih penghargaan ‘Kreator Inspirasi Milenial’ dalam ajang PWI Jombang Award 2026.

PWI menilai Cak Ukil berhasil menghadirkan konten yang tidak hanya kreatif, tetapi juga edukatif dan relevan dengan kebutuhan generasi saat ini.

“Kategori ini tidak sekadar menilai popularitas, tetapi juga kedalaman makna. Kami menyebut bahwa ‘kreator’ merepresentasikan sosok yang aktif menciptakan karya orisinal, sementara ‘inspirasi’ mencerminkan dampak positif yang ditimbulkan,” kata Ketua PWI Jombang, Muhammad Mufid saat dikonfirmasi.

Mufid menegaskan dengan perkembangan zaman digital, Cak Ukil dinilai mampu merangkum ketiga unsur tersebut dalam satu kesatuan.

“Cak Ukil tidak hanya menghasilkan karya, tetapi juga membangun kesadaran kolektif di tengah masyarakat digital,” ungkapnya.

Di tengah riuhnya dunia maya yang sering kali bising tanpa makna, kehadiran Cak Ukil menjadi pengingat bahwa teknologi, jika dimanfaatkan secara bijak, dapat menjadi ruang untuk menebarkan inspirasi dan perubahan. (Red)