JOMBANGKU.com – Di sebuah sudut Denanyar, Kabupaten Jombang, derit pena di atas kertas tak sekadar menghadirkan huruf. Ia merangkai ketekunan, merawat tradisi, dan menautkan nilai spiritual dalam setiap lengkungnya.
Dari ruang sederhana itulah, Pesantren Kaligrafi Sakal meneguhkan diri sebagai penjaga warisan seni kaligrafi Al-Qur’an yang terus hidup di tengah zaman.
Lembaga yang berakar dari sanggar kecil bernama Aksara pada 2001 ini tumbuh dengan satu tekad: menjaga kemurnian sanad keilmuan kaligrafi.
Di bawah arahan Direktur Sakal, Ustadz Atho’illah, proses belajar tidak hanya menekankan keindahan visual, tetapi juga kedalaman makna. Setiap goresan menjadi latihan kesabaran sekaligus bentuk ibadah.
Sejak 2013, Sakal mengadopsi Manhaj Hamidi, sebuah metode klasik yang menuntut ketelitian tinggi dalam menulis khat.
Pendekatan ini mengajarkan bahwa kaligrafi bukan sekadar keterampilan tangan, melainkan disiplin batin.
“Santri dibimbing melalui tahapan berjenjang, mulai dari pengenalan jenis khat dasar hingga tingkat profesional, lengkap dengan pemahaman sejarah, pembuatan alat tulis tradisional, serta pendalaman kitab kuning,” ucap Ustadz Atho’illah pada Rabu (8/4/2026).
Perjalanan Sakal tidak berhenti di lingkup lokal. Melalui kelas daring dan jejaring sanggar di berbagai daerah, lembaga ini memperluas jangkauan dakwah seni kaligrafi.
Prestasi pun turut mengiringi langkah tersebut, termasuk kiprah santri di ajang internasional seperti IRCICA di Turki dan Al-Safir di Irak.
“Pengakuan itu mempertegas posisi Sakal sebagai salah satu pusat pembinaan kaligrafi Islam yang bisa diperhitungkan,” ungkapnya.
Di tengah arus modernisasi yang kerap menggeser nilai tradisi, Sakal memilih bertahan dengan metode klasik (taqlidi).
“Bagi kami, menjaga keaslian teknik adalah cara merawat ruh dari kaligrafi itu sendiri bahwa setiap huruf mengandung pesan suci yang tak boleh tereduksi oleh sekadar estetika,” imbuhnya.
Dedikasi panjang tersebut akhirnya mendapat pengakuan dalam ajang PWI Jombang Award 2026 yang digelar dalam rangka peringatan Hari Pers Nasional.
Pesantren Kaligrafi Sakal dinobatkan sebagai penerima penghargaan Paramartha Seni Religi Kabupaten Jombang, sebuah kategori yang diperuntukkan bagi individu atau lembaga yang menghidupkan seni berbasis nilai-nilai keagamaan.
Bagi PWI Jombang, penghargaan ini bukan sekadar simbol apresiasi, melainkan penegasan atas peran seni sebagai medium dakwah.
“Dalam makna filosofisnya, “Paramartha” merujuk pada tujuan luhur bahwa karya seni tidak berhenti pada keindahan, tetapi menjadi jalan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta,” kata Muhammad Mufid, Ketua PWI Jombang saat dikonfirmasi.
Bagi Sakal, pengakuan tersebut menjadi penanda perjalanan, bukan tujuan akhir.
Di balik setiap karya yang lahir, tersimpan harapan agar kaligrafi Al-Qur’an tetap hidup, tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai napas spiritual yang terus mengalir di tengah masyarakat. (Red)






