Jelang Muktamar NU ke 34, Ini Respon Tokoh Muda NU Asal Jombang

Gus Hans
Gus Hans pengasuh Ponpes Queen Al Azhar Darul Ulum, Rejoso, Jombang (Dok JK)

JOMBANG – Jelang Muktamar NU ke 34 untuk pergantian Ketum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), yang mana rencana akan di gelar di Lampung pada akhir tahun 2021, mendapat respon dari tokoh muda Nahdatul Ulama wilayah Jawa Timur.

Salah satu tokoh muda tersebut, yakni Zahrul Azhar Asumta Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Queen Al Azhar Darul Ulum, Rejoso, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

“Menurut saya tidak akan sulit mencari sosok yang pantas untuk memimpin NU , karena NU itu gudang nya orang-orang pintar, dengan berbagai keilmuan yg dimiliki, setiap zaman memilki tantangan dan warna yang berbeda beda, 10, 50 tahun atau atau bahkan 5 tahun yang lalu begitu 4 tahun kedepan sudah berbeda beda tantangannya,” jelasnya. Selasa (12/10/2021)

Untuk itu, dirinya berharap siapapun yang memimpin NU selain harus memilki nilai kepantasan secara keilmuan juga mereka yang bisa menyesuaikan dng perkembangan zaman di era global.

“NU saat ini membutuhkan sosok yang bisa memberikan keyakinan kepada publik bahwa NU adalah organisasi yang berwawasan internasional dengan landasan kebangsaan tak tergoyahkan tanda kutip selain masalah keagamaan dan jamiyah sebagai domain utamanya,” terang pria sapaan Akrab Gus Hans.

Masih keterangan tokoh muda NU ini, bahwasanya NU perlu sosok yang memahami akan ruhnya NU selalu melangkah maju demi kemaslahatan umat dan terbiasa melakukan kegiatan kegiatan intelektual dan networkung beserkala internasional.

“Kita sudah harus melangkah jauh kedepan mempromosikan konsep Islam rahmatan lilalamin ala nusantara sebagai gerakan revolusi budaya moderasi beragama yang bisa diterima oleh masyarakat internasional, kalo Korsel bisa berekspansi dalam melakukan penetrasi budayanya melalu budaya K-POP, kenapa kita tidak melakukan hal yang sama dalam mengenalkan konsep moderasi beragama ala nusantara,” terang Gus Hans.

Terlebih lagi, Gus Hans secara gamblang merumuskan konsep akan tugas sosok nahkoda NU periode berikutnya.

“Saya mengusulkan adanya posisi ketum dan waketum yang memiliki tugas yang berbeda Ketum fokus pada hal hal kebangsaan dan issue issue internasional sedangkan Waketum fokus pas pembinaan jamiyah dan keorganisasian,” paparnya. (HR/Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *