JOMBANGKU.com – Setelah sempat tiga tahun harus absen lantaran Covid-19, pawai ta’aruf atau kirab budaya kembali digelar di Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang. Sabtu (13/8/2022).
Selain bentuk peringatan tahun baru Islam 1444 Hijriah, festival karnaval serta drum band yang diikuti oleh peserta didik tingkat Raudhatul Athfal (RA) serta Madrasah Ibtidaiyah (MI) itu. Dihelat dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-77.
Pantauan di lokasi start, ratusan peserta didik dari puluhan satuan pendidikan mulai berkumpul di lapangan Desa Sembung.
Tampak hadir dalam agenda pemberangkatan, jajaran forum komunikasi pimpinan kecamatan (Forkopimcam) Perak. Usai serangkaian sambutan, pawai budaya diberangkatkan dengan seremonial pelepasan balon ke udara.
Dari berbagai peserta karnaval ada yang unik memakai kostum, salah satunya dari MIS Sunan Giri, Gadingmangu, mengangkat tema kepahlawanan dengan memanfaatkan limbah daur ulang rumah tangga sebagai kostum.
“Kami sangat terharu dengan semangat anak-anak yang totalitas mengikuti festival karnaval serta drum band tahun ini. Semangat serupa, nampak juga ditunjukkan oleh orang tua wali murid,” papar Camat Perak, Widiono, dalam sambutannya.
Melalui festival budaya yang kembali dapat digelar usai tiga tahun vakum. Secara khusus Camat berharap agar nilai-nilai positif dapat diraih oleh seluruh peserta yang hadir. Utamanya, jiwa nasionalisme yang harus ditanamkan sejak usia dini.
“Selain ucapan selamat mengikuti festival budaya kepada seluruh peserta beserta orang tua yang mendampingi. Kami berharap agar nilai-nilai positif dapat diambil melalui kegiatan, salah satunya yakni jiwa nasionalisme,” pungkas Widiono.
Kembali ke jalannya festival, seperti gelaran ditahun sebelumnya. Ratusan peserta didik diberangkatan dari lapangan, lalu finish di MI Tarbiyatut Tholibin yang juga berada di Desa Sembung.
Ternyata animo masyarakat sangatlah tinggi. Rute yang dilalui, sejumlah jalan atau gang yang berada di tengah-tengah permukiman warga serta jalur yang dilintasi padat penonton.
Sementara, Nanik Maghfiroh, Kepala MIS. Sunan Giri, Gadingmangu, salah satu satuan pendidikan yang mengikuti festival karnaval serta drum band mengaku, jika untuk memeriahkan kegiatan ia menurunkan 4 grup. Masing-masing grup beranggotakan 25 siswa.
“Dalam festival tahun ini, kami menurunkan 4 group budaya. Masing-masing group, terdiri dari 25 siswa,” terangnya.
Dijelaskan oleh Nanik, siswa yang dilibatkan untuk mengikuti pawai budaya terdiri dari gabungan kelas 3, 4, 5, serta 6.
Selain itu dirinya mengarahkan untuk mengusung tema profesi, kepahlawanan, adat, serta unsur etnik. Dalam menghias pakaian yang dikenakan peserta, MIS. Sunan Giri sengaja menggunakan limbah daur ulang rumah tangga.
“Bahan daur ulang yang kami gunakan meliputi kardus, kantong plastik, sedotan, hingga karung goni. Selain menanamkan kepercayaan diri dengan membuat sendiri kostum yang dikenakan, kami juga menekankan kepada siswa untuk bijak dalam mengolah sampah,” papar Nanik.
Jika ada pepatah yang menyebut bahwa usaha tidak akan menghianati hasil, kondisi tersebut dibuktikan oleh MIS. Sunan Giri. Lantaran, mereka berhasil menyabet juara ketiga dalam kategori karnaval.
“Untuk menampilkan pakaian princes serta tokoh Gatotkaca, saya beserta suami berkerja sama membuat kostumnya. Bahan yang kami gunakan, kantong plastik, serta kardus bekas air mineral,” terang Panca Indra Natalia, salah satu orang tua murid.
Diakui pula olehnya, kesibukan yang sama juga dirasakan oleh sejumlah wali murid yang lain. Selain harus menentukan pola terlebih dulu, proses penggabungan bahan juga cukup membutuhkan ketekunan.
“Alhamdulillah, usaha serta kerja keras oarang tua terbayar. Terbukti grup MIS. Sunan Giri mendapatkan juara ketiga,” ujarnya bersyukur. (Wan/Red)