Di balik ancaman gagal panen yang menghantui petani, genangan air tersebut justru menjelma menjadi destinasi wisata dadakan yang memikat warga.
JOMBANGKU.com – Banjir yang merendam belasan hektare sawah di Dusun Ketapang Rejo, Desa Ketapang Kuning, Kecamatan Ngusikan, Kabupaten Jombang, menciptakan pemandangan yang paradoks.
Di balik ancaman gagal panen yang menghantui petani, genangan air tersebut justru menjelma menjadi destinasi wisata dadakan yang memikat warga.
Selama empat hari terakhir, hamparan sawah seluas 17 hektare itu berubah menyerupai danau luas.
Permukaan air yang bergelombang ditiup angin, berpadu dengan semburat jingga di ufuk barat, menciptakan atmosfer syahdu yang menarik perhatian masyarakat untuk berkunjung.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Selasa (13/1/2026) petang, ratusan warga dari berbagai kalangan tampak memadati area tepi sawah.
Mereka terdiri dari keluarga yang membawa anak-anak, kelompok remaja, hingga pasangan muda terlihat menikmati momen langka tersebut untuk bersantai dan berswafoto.
Fenomena ini tak pelak membawa berkah bagi para pedagang kaki lima. Lapak-lapak jajanan dadakan mulai menjamur di sepanjang pinggiran sawah, menawarkan aneka kuliner bagi pengunjung yang ingin menikmati senja.
Salah satu pengunjung remaja, Bianca Nisha Aurelia (15), mengaku terpikat datang setelah melihat keramaian di media sosial.
“Awalnya penasaran ingin melihat banjir, tapi ternyata suasananya seru. Airnya luas seperti danau dan ada gelombangnya. Ditambah lagi pemandangan sunset-nya kemarin bagus sekali,” ungkap Bianca sembari menikmati angin sepoi-sepoi di lokasi.
Saking antusiasnya, Bianca bahkan melontarkan seloroh tentang potensi wisata di sana. “Suasananya tenang dan gratis juga. Rasanya ingin buat perahu untuk disewakan di sini, pasti seru,” tambahnya sambil bercanda.
Senada dengan Bianca, Mohammad Ilham (25), warga sekitar, menuturkan bahwa ia datang setelah melihat unggahan video drone yang viral.
“Ini fenomena tahunan, mungkin hanya terjadi satu atau dua kali setahun. Karena videonya viral dan terlihat estetik dari ketinggian, saya jadi tertarik datang langsung. Ternyata memang bagus, bisa ngopi sambil menikmati senja di tepi air,” ujar Ilham.
Menurut Ilham, puncak keramaian terjadi pada Selasa petang, meski sejak sehari sebelumnya warga sudah mulai berdatangan.
Namun, di tengah keriuhan wisata dadakan ini, terselip keprihatinan bagi para petani. Atim (45), seorang penjual pentol bakar asal Desa Keboan, memberikan sudut pandang yang berbeda.
Sebagai pedagang, ia mengaku bersyukur atas keramaian ini, namun tetap berempati pada nasib pemilik lahan.
“Secara ekonomi, pedagang seperti saya tentu terbantu karena banyak pembeli. Tapi di sisi lain, petani jelas merugi besar karena tanamannya terendam,” tutur Atim.
Atim berharap ada perhatian lebih dari pihak terkait mengenai kondisi drainase di wilayah tersebut. “Harapannya, pemerintah bisa meninjau langsung ke sini. Kasihan para petani kalau banjirnya menggenang terlalu lama,” pungkasnya. (Ms/Red)







