Sepanjang pementasan yang didukung tata cahaya dan musik memukau ini, tidak ada satu pun adegan yang mempertemukan santri laki-laki dan perempuan dalam satu panggung.
JOMBANGKU.com – Sorot lampu panggung di Aula Asrama Al Furqon Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, perlahan meredup, menyisakan satu titik fokus yang menyayat hati.
Di bawah sorotan itu, tampak Asih dalam posisi terduduk. Tubuhnya tak bebas, terbelenggu lilitan pita merah yang erat, simbol pengekangan yang dipaksakan oleh orang tuanya sendiri.
Namun, di tengah keterbatasan gerak itu, suaranya justru terdengar lantang. Ia berteriak, menolak diam, dan menggugat ketidakadilan.
Suasana magis pada Jumat (13/2/2026) malam itu menjadi puncak pementasan lakon “Iswara” yang dibawakan oleh Teater Pitulikur (27).
Para pemainnya bukanlah aktor profesional ibu kota, melainkan para santri Asrama Al Furqon, Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso, Kabupaten Jombang.
Malam itu, para santri yang terdiri dari siswa Madrasah Tsanawiyah (MTs), SMP, hingga Madrasah Aliyah (MA) dan SMA tersebut tidak sekadar bermain peran, tetapi tengah menyuarakan pesan berat tentang perlawanan terhadap patriarki.
Gugatan Anak Kepala Desa
Pementasan “Iswara” disutradarai oleh Nadya Lutfina Nur Hasanah, dengan naskah yang ditulis oleh Akbar Maulana Gani. Keduanya merupakan santri Ponpes Darul Ulum Rejoso.
Lakon “Iswara” membawa penonton menyelami kehidupan Asih, seorang perempuan yang berani bermimpi di tengah lingkungan yang menganggap tabu ambisi wanita.
Konflik batin Asih terasa begitu dekat dan nyata. Penentang terbesarnya bukanlah orang asing, melainkan Ayah dan Ibunya.
Sang Ayah digambarkan sebagai sosok Kepala Desa yang jauh dari kata teladan. Ia tidak amanah dan dikenal gemar menyalahgunakan kekuasaan.
Lebih menyakitkan lagi, Ayah Asih memandang putrinya sendiri tak ubahnya objek yang harus dikekang.
“Perempuan tak perlu sekolah tinggi, ujungnya hanya di dapur,” demikian stigma yang coba dipatahkan oleh Asih.
Di tengah cibiran masyarakat dan tekanan keluarga, Asih nekat mendirikan tempat belajar bagi anak-anak desa.
Perjuangan inilah yang menjadi napas utama pementasan. Emosi penonton dibuat hanyut melihat bagaimana hak asasi manusia dikebiri atas nama “kodrat” yang disalahartikan.
Seni di Tengah Batasan Syariat
Namun, ada yang lebih menarik dari sekadar alur cerita yang dramatis. Jika penonton mengamati lebih jeli, terdapat keunikan luar biasa dalam tata panggung dan interaksi para aktor Teater Pitulikur.
Sepanjang pementasan yang didukung tata cahaya dan musik memukau ini, tidak ada satu pun adegan yang mempertemukan santri laki-laki dan perempuan dalam satu panggung.
Tidak ada dialog tatap muka, tidak ada sentuhan, bahkan tidak ada kedekatan fisik antarpemain lawan jenis.
Sutradara dan tim produksi menyiasatinya dengan pembagian babak yang cerdas. Ada segmen khusus bagi pemeran laki-laki, dan segmen terpisah untuk pemeran perempuan.
Ajaibnya, alur cerita tetap mengalir runtut. Emosi tetap tersambung. Bagi penonton yang larut dalam cerita, ketiadaan interaksi langsung lawan jenis ini mungkin tak terasa, saking halusnya transisi yang dibangun.
Ikhtiar Menjaga Karakter
Konsep pementasan unik ini bukan tanpa alasan. Pengasuh Asrama Al Furqon PP Darul Ulum Rejoso, KH. Mustain Dzul Azmi, menjelaskan bahwa seni teater di pesantrennya merupakan wahana pembinaan karakter bagi para santri.
Dalam pelaksanaannya, para santri diberikan keleluasaan untuk mengeksplorasi kemampuan diri, namun tetap berpijak dalam koridor syariat.
“Setiap pementasan diatur dengan strategi setiap babak tidak ada pertemuan maupun dialog langsung antara santri laki-laki dan perempuan,” ujar Kiai yang akrab disapa Gus Azmi tersebut.
Strategi ini menjadi bukti bahwa kreativitas santri tidak mati oleh aturan. Justru, batasan-batasan tersebut melahirkan inovasi penyutradaraan yang segar tanpa menggerus nilai-nilai kepesantrenan.
Malam itu, Asih mungkin terikat pita merah di akhir cerita. Namun, kreativitas santri Darul Ulum terbukti bebas merdeka, menyuarakan kesetaraan lewat seni yang santun dan bermartabat. (Ms/Red)






