Tamu Kehormatan

Oleh: Binti Rohmatin

Memuliakan tamu bukan sekadar tradisi, melainkan cermin keimanan—sebuah pesan berharga yang kembali bergema bagi warga Jombang menjelang Muktamar ke-35 NU.

“BARANG siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits ini berakar dari kisah Nabi Ibrahim yang kedatangan tamu orang asing di rumahnya. Manusia pertama yang menjamu tamu secara luar biasa ini membuat sebagian umat menyebut bahwa Nabi Ibrahim AS sebagai Bapak Peradaban Tamu.

Selebihnya, dalil memuliakan tamu ini juga merujuk tradisi Bangsa Arab yang kemudian disempurnakan oleh Rasulullah SAW. Memuliakan tamu yang datang ke rumah sebagai bagian dari tanda keimanan. Mulai menjawab dengan salam sempurna dan menyajikan makanan dengan baik. Termasuk mendekatkan sajian di hadapan tamu, agar tidak canggung saat mengambil.

Dalam konteks ini saya tidak membedah kehadiran tamu dalam karya sastra. Meski menyebut bahwa tamu memang simbol yang mengungkap ketegangan psikologis, perubahan sosial, dan dinamika relasi kuasa dalam masyarakat.

Nah, hadits dengan perawi sahih di atas seakan mengulik kembali, sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat Jombang, jelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Pelaksanaan hajat besar lima tahunan ini tinggal menghitung hari. Berbagai persiapan telah dilakukan. Baik panitia lokal, panitia pusat, maupun para pengambil kebijakan di daerah. Termasuk sarana prasarana, serta percepatan pembangunan infrastruktur sebagai bentuk perbaikan fisik yang mempercantik kota santri.

Geliat masyarakat langsung terlihat, manakala Muktamar ke-35 diputuskan di Jombang. Keputusan lokasi yang dikembalikan ke PBNU ini seakan-akan menjadi harapan baru. Mengulang kembali hiruk pikuk Muktamar ke-33 yang juga diselenggarakan di Jombang, 1–5 Agustus 2015 lalu. Banyak rumah warga yang laris manis disewa dengan harga fantastis. Berbagai usaha makanan, resto, rumah makan sampai penjual nasi bungkus juga kecipratan rezeki.

Termasuk penyedia jasa angkutan penumpang mulai sepeda pancal, sepeda listrik, sepeda motor sampai kendaraan roda empat dan sejenisnya. Begitu juga pemilik usaha garmen, pakaian, suvenir Muktamar, dan oleh-oleh Jombang merasakan hal sama. Karena itulah tak heran, kalau kemudian Pemkab Jombang sejak lama mewanti-wanti kepada semua pemilik usaha, termasuk semua lapisan masyarakat, agar tidak menggunakan istilah aji mumpung.

Bukan hanya Dinas Perhubungan yang meminta sopir agar tidak mematok tarif angkutan di luar kewajaran selama pelaksanaan Muktamar NU ke-35. Pemkab Jombang, seperti yang disampaikan Sekda Agus Purnomo pada edisi khusus Muktamar Ke-35 NU Jawa Pos Radar Jombang, Rabu, 5 Agustus 2026, juga meminta para pedagang dan pelaku usaha kuliner tidak menaikkan harga tidak wajar. Persoalan harga inipun masuk dalam agenda rapat persiapan Jombang sebagai tuan rumah.

Mereka tidak ingin keluhan harga makanan yang disampaikan muktamirin 2015 lalu muncul kembali. Koordinasi pun dilakukan. Transparansi harga harus dilakukan. Tujuannya satu, semua ingin menjadi tuan rumah yang baik. Tidak hanya sikap yang ramah sebagaimana tanda keimanan memuliakan tamu, menjawab salam dengan sempurna, tapi juga menyajikan makanan terbaik, bahkan mendekatkan agar sang tamu tidak canggung untuk mengambilnya.

Jika Nabi Ibrahim AS menyambut tamu orang asing, yang kemudian diketahui sebagai malaikat wujud manusia, dengan menyembelih anak sapi gemuk. Beda lagi dengan Nabi Muhammad SAW bersama seorang sahabat Ansar (Abu Thalhah) yang mendahulukan makanan bagi tamu, meski keluarganya sendiri dalam keadaan kelaparan.

Kisah ini dimulai saat perbincangan santai dengan para sahabat di rumah Rasulullah. Terdengar salam dari balik pintu yang dijawab Rasulullah dengan sempurna. Dari penampilannya, Rasulullah melihat tamunya sedang mengalami kesulitan. Namun tetap dipersilakan masuk. “Sesungguhnya, saya sedang dalam kesempitan, ya Rasulullah. Tak ada sesuatu pun yang saya punyai saat ini,” kata tamu itu. Mendengar itu Rasulullah menemui istrinya. Namun, istri Rasulullah hanya memiliki air putih yang bisa disajikan.

Rasulullah tampak murung sejenak karena kehilangan kesempatan untuk membuat senang tamunya yang dalam kesulitan. Hingga menuju para sahabatnya, seraya bertanya siapa yang bersedia menjamu tamunya. “Siapa yang menjamu tamu, sesungguhnya ia akan memperoleh rahmat dari Allah Ta’ala,” ungkap Rasulullah.

Seorang sahabat dari kaum Ansar menawarkan diri. Akhirnya, tamu tersebut dibawa ke rumah sahabat Nabi. Sesampainya di rumah, sahabat itu menjelaskan perihal tamu yang dibawanya, “Ya, istriku. Tadi aku menyanggupi tawaran Rasulullah untuk menjamu tamu yang sedang dalam kesulitan ini. Adakah makanan yang dapat kita berikan?”

“Wahai suamiku, sungguh yang kita punya hanya makanan yang cukup untuk makan anak kita saja. Kalau disajikan, anak kita tidak makan malam ini,” ujar istri sahabat. Kemudian sahabat meminta agar anaknya ditidurkan lebih cepat agar tidak merasa lapar. Ia juga meminta istrinya agar tidak sengaja mematikan lilin, untuk menemani pura-pura makan. Hal ini dilakukan karena makanan hanya cukup satu orang. Barulah, setelah makan selesai, lilin dihidupkan kembali.

Maka, semua berjalan sesuai dengan rencana. Tamu tersebut dapat disambut dengan baik dan saat esok hari sahabat Ansar bertemu Rasulullah tanpa sepatah kata, Rasulullah langsung memberikan senyuman. “Allah kagum pada usaha kalian berdua menjamu tamu dengan baik,” katanya.

Dari kisah tersebut kita bisa mengambil pelajaran mulia. Begitu luar biasa seorang sahabat yang berjuang melayani dan menghormati tamu. Maka setidaknya, sebagai warga Jombang kita harus menunjukkan sikap yang baik dan ramah kepada siapapun, pada saat Muktamar ke-35 nanti. Entah itu muktamirin dari kalangan masyarakat biasa, santri, ustaz, maupun pengasuh pesantren.

Semua dihormati dan diperlakukan dengan sopan. Bila perlu dibuat hatinya merasa aman dan nyaman. Jangan sebaliknya, memanfaatkan mereka demi mengeruk keuntungan pribadi. Ingat, keberkahan itu bukan dilihat dari berapa banyak yang kita dapat. Tapi ketenangan hati dan kecukupan materi dengan apa yang kita perlukan.

Menjadi tidak berguna dan tidak bermanfaat kalau ternyata hasil yang banyak itu justru mendatangkan mudarat dan permasalahan tidak terduga di kemudian hari. Mari menjadi tuan rumah yang baik dengan bersikap baik dan memuliakan tamu dengan baik. Membiasakan kebaikan, karena sesungguhnya kebaikan itu hanya bisa dilakukan dengan kebiasaan. Jadi bisa saya simpulkan bahwa menghormati tamu, sama dengan menghormati diri kita sendiri. (*)

Penulis adalah Sekretaris Majelis Taklim Perempuan [MTP] IPHI Jawa Timur